haiulya.com

17/07/18

Detox Bawang Merah, Pilihan Sehat Sebelum ke Dokter



Aku suka sehat. Kayanya bukan aku aja sih, semua orang juga pengennya sehat sehat terus. Tapi aku tuh kayaknya beda deh sama kalian. Aku banyakan nganggur, gak banyak gerak kecuali jempol tangan (IYKWIM) hehe.

Bener banget kalo ada yang bilang bahwa gerak tubuh akan membuat tubuh lebih sehat. Otot gak kaku dan lebih luwes menjalani keseharian. Gak ada lagi yang namanya sakit walau sedikit gerak. Kaya udah berumur aja, ganti posisi dari duduk ke berdiri aja tulang rasanya bunyi dan otot rasanya kaku banget, hiks.

Aku baru aja ngalamin, jadi kali ini aku mau share pengalamanku merasa segar dan sehat selama sebulan dan merasa kaku seminggu ini.


Lebaran Jadi Banyak Gerak


Lebaran memang jadi salah satu momen terbaik untuk berkunjung dan bersilaturahim ke sanak saudara. Sebagai junior, sudah sepantasnya mendatangi para senior yang dekat maupun jauh. Kalau sudah begini, mau gak mau harus menyiapkan fisim yang kuat setidaknya dibantu dengan suplemen.

Nah, lebaran kemarin aku tuh mendadak jadi aktif dan gak seperti lebaran biasanya. Padahal dompet juga kering banget tapi fisikku rasanya mendukung banget buat kemana-mana. Makan apa aja juga oke, ga ada efek pusing atau mual kaya biasanya. Paling ngantuk aja kalo udah waktunya tidur siang.

Setelaha aku ingat-ingat lagi, ternyata kuncinya ada di aktifitasku sebelum lebaran. Ya, waktu masih bulan puasa kemarin jadwal les di rumah jadi lebih longgar dan jadwal bangun pagi jadi lebih teratur. Aku jadi jarang tidur pagi dan lebih rutin jogging 2-3 minggu sekali. Dan ternyata hasilnya memuaskan sekali dan terasa banget manfaatnya sebulan ini.

Aku jadi lebih fresh, badan kerasa enteng gak mudah capek dan bawaannya positif terus. Alhamdulillah, aku suka dan bisa jadiin pelajaran.

Aku Mulai Drop


Sampai akhirnya seminggu yang lalu aku telat makan dan berasa males banget. Rasanya langsung aneh banget di badan. Badan pegel-pegel dan otot rasanya kaku. Padahal aku gak kemana-mana lho, cuma di rumah aja dan emang sih aku jarang olahraga akhir akhir ini. Peregangan terakhir aja udah lupa kapan, dan alasannya emang klasik banget. MALES. huhu

Nah, kemaren juga saat perjalanan pulang aku sengaja gak pake jaket (jangan ditiru ya). Emang sih ga dingin dan aku males banget ambil jaket di bawah jok. Akhirnya perjalanan selama 40 menit aku jalani tanpa perlindungan jaket. Sampai di rumah ga begitu kerasa dan esok harinya baru deh kerasa badan panas dingin.

Seharian mager kaya ngga ada kerjaan. Berasa manja tapi ga ada yang manjain, hehe. Dan baru sadar kalo olah tubuh emang penting banget. Ya emang sekedar jogging, lari-lari beberapa menit tapi manfaatnya besar banget!


Detox Bawang Merah


Karena sudah banyak aktifitas yang menanti, ya meskipun ga keliatan sibuk karena cuma dikerjain dari rumah dan bahkan dari tempat tidur, rasanya aku harus lekas sehat. SEGERA. Sempat mikir mau ke klinik langganan yang emang udah klop banget sama aku. Ya gimana ga klop, baru pulang periksa bahkan belum minum obatnya aja udah enakan. Tapi emang dasarnya klinik swasta, jadi lebih mahal apalagi aku belum punya kartu BPJS.

Akhirnya aku pilih opsi obat rumahan dulu karena emang udah agak mendingan dan butuh pemulihan aja. Tapi takut juga sih kalk besok panas lagi. Hm... Coba dulu aja sih. Ga ada salahnya juga.

Obat ini biasanya aku pakai saat sakit atau meriang juga. Bahannya gampang banget ditemuin di dapur bu ibu ya... Apa sih? Bawang Merah. 

Ya, aku cuma pakai bawang merah. Dulu aku cuma browsing gitu sih di google, dan aku cobain. Eh, ternyata emang manjur. Untuk manfaatnya kalian bisa lihat disini atau disini. Aku suka pakai bahan ini saat menjelang tidur, karena aku pernah baca pakainya harus sekitar 8 jam. Jadi sepertinya waktu malam adala waktu yang pas untuk mengaplikasikannya.

Dan cara membuatnya yang sederhana juga sangat bersahabat untuk badan yang lagi lemes-lemesnya. Cekidot...

Alat yang dibutuhkan :
*Talenan
*Pisau
*Cawan/Mangkuk Kecil
*Lakban
*Gunting
*Kaos Kaki


Cara membuat
*Bersihkan kaki dengan air bersih, keringkan.
*Kupas dan iris tipis bawang merah
*Siapkan lakban kira-kira sepanjang putaran alas-telapak kaki, biarkan terbuka. Tempelkan irisan bawang di lakban secukupnya. Kira-kira lebar seukuran telapak kaki.
*Tempelkan lakban ke kaki. Bawang di bagian tengah berada di telapak kaki dan bagian pinggir direkatkan. Jika masih ada bawang yang menonjol, tambahkan lakban agar semua bawang tertutup.
*Tutup dengan kaos kaki dan selamat tidur.


Sebenarnya ada beberapa alat lain selain lakban yang bisa digunakan untuk mengunci irisan bawang, misalnya handuk, plastik atau langsung ditempelkan pada kaos kaki. Tapi bagiku, lakban jauh lebih aman karena saat bangun malam dan ingin ke kamar mandi telalak kaki jadi lebih aman karena lakban lebih ramah dengan air. Bisa diatur bagaimana meminimalisir interaksi kaki dengan air.


Nah, itu tadi pengalamanku saat sehat dan sakit dan bagaimana aku menanganinya secara pribadi. Semoga bermanfaat.

Happy Blogging!!!

11/07/18

Setelah Lulus Mau Apa?




Apa yang kalian pikirkan saat telah lulus dari dunia pendidikan?. Sebut saja s1, s2 atau SMA.

Mungkin bagi lulusan S2 akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan melihat jenjang pendidikan yang ditempuh sudah oke dan banyak sekali lowongan yang bisa menampung mereka. Bagi lulusan S2 mungkin lebih sedikit sulit, jika tidak dibarengi dengan ikhtiar kuat dan kualifikasi yang mumpuni tentu akan terasa berat dalam menjalani kehidupan di dunia kerja. 

Nah, untuk yang lulusan SMA atau sederajat nih. Kalo menurutku sih lebih mending dibanding yang lulusan SMP. Meskipun banyak penyedia lowongan kerja yang masih menyamakan kedudukan keduanya. Tapi yang namanya rejeki pasti tak akan kemana. 

Jadi pekerja adalah pilihan. Menurutku, setial hal yang dilakukan dan bisa menghasilkan uang adalah sebuah bentuk nyata dari kata 'BEKERJA'. Tentu saja hal ini akan berbeda dengan pendapat orang lain, termasuk kamu yang sedang membaca tulisan ini.

Beberapa orang telah memiliki pekerjaan impian sejak masuk ke perguruan tinggi, atau sekolah menengah atas atau bahkan di tingkat pendidikan yang lebih rendah. Semuanya tergantung pada pola pikir dan ajaran keluarga yang didapatkannya sejak kecil. Tak jarang diantara mereka yang memperjuangkan impiannya mati-matian demi sebuah harapan besar.

Beberapa orang lain justru lebih acuh pada pekerjaan impian. Lebih suka menjalani hidup dengan santai dan mengikuti arus. Kemana takdir memanggil, ia akan datang. Kurang lebih begitu. Termasuk jika ia pernah memiliki pekerjaan impian lalu memilih berjalan mengikuti kemana arah angin membimbingnya.

Mengangur? BIG NO!!!


Sebesar apapun keinginanmu untuk bekerja, bersyukurlah jika bisa mewujudkannya dengan jalan yang biasa, maksudku tanpa hambatan dan perjuangan yang berlebihan. KARENA, di luar sana banyak yang masih kebingungan melabuhkan dirinya pada satu pekerjaan impian. Ya, lagi-lagi ini tentang takdir.

Apalagi jika dibarengi gengsi yang sebesar gunung, wah... bisa nganggur kamu. Hm.. maaf jika ini terkesan berlebihan, tapi begitulah kenyaataan yang ada. Banyak tawaran pekerjaan tapi tak semuanya membutuhkan skill dan title yang kamu miliki. Kalaupun ada, biasanya sudah disusupi orang dalam. Dan kamu hanya bisa memilih untuk pulang untuk membuat surat lamaran baru esok hari.

Jika memang niat bekerja, jalani saja apa yang ada di depan mata. Bukan soal berapa rupiah atau berapa lama kamu bisa bertahan, tapi ini tentang pengalaman. You need it, Trust Me!

Atau
Jika memang tidak punya niat bekerja sama sekali artinya ini tipe yang lebih suka membuka lapangan kerja. Setidaknya untuk dirinya sendiri. "Lha, emang bisa bikin lapangan kerja?, so so an banget lah baru lulus udah mau jadi bos."

Please abaikan kalimat julit kaya gitu. Banyak kok yang baru lulus dan sudah punya usaha, bahkan yang belum luluspun banyak. Dan kebanyakan jenis usahanya ngga nyambung dengan jurusan yang diambil saat kuliah. Dan satu hal lagi yang cukup penting diketahui adalah bahwa memulai usaha itu gak harus langsung besar, bisa kok dimulai dari yang kecil-kecilan. Apa aja? Ini aku beri beberapa contohnya:

1. Jual Gorengan
Sebenernya ini bukan duniaku, hehe. Aku ga bisa masak dan bikin cemilan enak. Jadi maaf kalo saran ini ga berdasarkan pengalamanku. Tapi siapa sih yang ga suka gorengan? Biarpun lagi batuk atau kena penyakit lain yang dilarang makan gorengan pasti tetep dimakan. Hehe

Menurutku, jualan gorengan tuh ga ada matinya. Bahkan peluang berkembangnya sangat besar. Bisa merambah ke jualan nasi bungkus semacam 'angkringan' yang berjualan semalaman. Bisa juga membuka banyak cabang di berbagai tempat. Wah, kalo gini sih bisa kasih kerjaan ke orang lain juga. 

Modalnya juga lumayan gampang, yang penting tau resepnya dan telaten menjalani usahanya insya Allah akan menuai hasil baiknya.

Eits, meskipun disini aku tulis jualan gorengan aja kalian juga bisa kok buka usaha dengan berjualan barang lainnya. Ya kan ini berdasarkan apa yang aku lihat aja. Banyak anak muda dan masih aku kenal yang memilih berjualan gorengan, nasi bungkus, roti bakar dan lain sebagainya.

2. Membuka Jasa Les 
Jasa di bidang pendidikan adalah salah satu hal yang akan terus dicari. Nah, peluang ini bisa dimanfaatkan untuk membuka usaha. Modalnya yang cukup ringan dan mudah tentu menjadi kelebihan tersendiri bagi siapapun yang ingin bergelut di bidang pendidikan.

Hanya dengan modal ilmu yang dimiliki dan ruang tamu di rumah saja sudah cukup untuk membuka jasa les. Ditambah dengan promosi melalui media sosial serta brosur sederhana untuk media informasi sepertinya sudah cukup. Setelah ada beberapa murid tentu akan semakin berkembang informasi dari mulut ke mulut yang justru semakin membantu tersebar luasnya usaha les yang kamu punya.

Hanya sekedar info tambahan bahwa beberapa orang tua ada yang sangat selektif memilih tempat belajar tambahan untuk anaknya. Bahkan tak jarang dari mereka mengharuskan anaknya diajar oleh lulusan S1 Pendidikan. Wow, amazing!. It's okelah kalo memang kamu memiliki kualifikasi yang mumpuni. Kalo ngga????

Em, jangan khawatir deh.. kamu yang lulusan non pendidikan atau bahkan hanya lulusan SMA bisa kok membuka jasa les untuk anak. Ya memang bukan les privat atau les pelajaran sekolah, tapi Les Baca Anak Hebat atau biasa disingkat AHE. 

Syarat yang diperlukan cukup mudah dan simpel. Cukup mendaftar di website anakhebatahe.com.com atau kepada konsultan terdekat lalu mengikuti pelatihan mengajar dan sudah bisa membuka unit resmi di rumah. Siapapun bisa mendaftar dan membuka les baca di rumah baik ibu rumah tangga adik-adik yang baru lulus SMA atau para calon ibu muda sepertiku hehe. Yang penting di area yang akan didaftarkan belum terdapat unit resminya. Nah, kamu bisa cek area kamu di webnya langsung tuh. Atau kamu bisa cek di media sosialnya disini.

3. Jadi Freelancer
Sebenarnya aku juga belum tau definisi freelancer yang sebenarnya. Yang pasti kerja jadi freelancer itu lumayan enak dibanding yang lainnya. Gak ada jam kerja khusus dan gak ada kerjaan khusus. Semuanya seperti berjalan apa adanya. Yaa... namanya juga pekerja lepas, bebas.

Wah, freelancer gak bisa jadi kerjaan utama dong? Paling honornya kecil!

Eh, jangan salah, coba aja deh baca cerita teman-teman yang memilih menjadi freelancer pasti bikin kamu kepincut pengen seperti mereka. Apalagi kalau kamu tipe yang gak suka kerja rutin setiap hari. Kalo masih kepo dengan jenis kerjaan ini kamu bisa dapat info lainnya disini.


Nah, itu tadi beberapa pilihan Pekerjaan untuk kamu yang belum diterima bekerja setelah lulus. Jangan putus asa, kamu bisa kok buat pekerjaanmu sendiri. Dari ketiga jenis kerjaan itu, sebenarnya banyak aku ambil dari pengalamanku sebagai penjual kain tenun, pengajar les, blogger dan vlogger yang masih terus belajar sampai sekarang.

So, jangan pernah memilih untuk menganggur. Bekerjalah, berusahalah semampumu. Mungkin tak ada yang tau hasilnya, tapi kamu yang merasakannya.

Sekian, selamat membaca dan happy blogging!

25/06/18

Jangan Pacaran, Berat!



Pacaran itu gak ada dalam buku manapun, kecuali novel fiksi atau novel non fiksi yang berawal dari novel fiksi yang dibaca sebelumnya. Maksudku gaya pacaran real yang diadaptasi dari bacaan fiksi gitu lhoh. Ribet yaa...

Iya. Ribet. Sama dengan pacaran itu sendiri. Apalagi untuk yang belum benar-benar siap menjalin hubungan dengan orang lain yang belum dikenal atau sudah dikenal namun dengan kedekatan yang berbeda. Menurutku, ini hanya tentang status sosial di zaman yang sudah sangat lazim menghina jomblo. Atau alibi pemenuhan perhatian dan kasih sayang yang seperti mereka bayangkan selama ini.

Sebenarnya, daripada bahas pacaran mendingan bahas nikah. Lebih jelas dan terarah. Tapi ya sudahlah, aku sudah terlanjur ingin membahasnya hehe.

Pada masa awal, pacaran akan terasa indah. Selalu berkabar, rajin nanyain pasangan, telponan tiap hari sampe kuping panas. Ya begitulah, namanya juga masih seger-segernya. Makin lama, karena kebanyakan yang pacaran adalah anak muda yang masih labil, makin berkurang deh keseruan di awal masa pacaran.

Apalagi kalo nggak ada tujuan serius sampai ke jenjang menikah, atau salah satu dari mereka adalah player, ya sudah pasti terbaca endingnya.

Para pelaku pacaran bukannya tidak tahu akibat dan resiko berpacaran, tapi ya lagi-lagi ini tentang status sosial. Akan terlihat wah jika mereka berpacaran, setidaknya ada nama yang bisa ditambahkan di bio sosial media dengan bubuhan emotikon love 😂.

Gaya pacaran anak muda lebih menjurus ke hal-hal yang have fun ala anak muda. Jalan bareng, makan bareng, belanja bareng dan lain-lain yang cenderung konsumtif. Padahal kebanyakan dari mereka belum produktif menghasilkan uang sendiri. Anehnya, mereka selalu bisa meluangkan waktu dan uangnya untuk hal itu.

Gaya pacaran anak muda tuh gak jauh beda, rata-rata hampir sama dengan pola yang juga sama.
➡KENALAN-PDKT-JADIAN-TAUBELANGNYA-MARAHAN-PUTUS
➡LIAT AVA CANTIK - DI DM - DAPAT KONTAKNYA - DIPUJI-PUJI KECANTIKANNYA (PADAHAL BIASA AJA) - PDKT - MAKIN DIPEPET - JADIAN DI HP - KETEMUAN - TERNYATA GAK SESUAI FOTO AVA - PUTUS
➡DIKENALIN TEMEN - PDKT - NEMBAK - JADIAN - DIMAKAN TEMEN - PUTUS

Masih banyak lagi teorinya sih, tapi gak mau nulis semua. Nanti aku dikira pakar dunia percintaan, eh dunia pacaran. Aku disini bedain pacaran sama percintaan ya Gais... Karena menurutku emang beda, beda banget. Pacaran, bahkan menikah ga musti pake cinta. Dan cinta pun ga musti berakhir dengan pacaran atau meniqah.

Jangan Pacaran, BERAT!

14/06/18

Tiga Pasang Sepatu dan Dua Pasang Sendalku






 Tiga Pasang Sepatu dan Dua Pasang Sendalku | Ada yang mengatakan bahwa sepatu (atau sebut saja aksesoris kaki) merupakan salah satu fashion icon yang cukup penting untuk diperhatikan. Di sisi lain, ada yang berpendapat bahwa sepatu adalah bagian yang berbeda dengan tren fashion. Ya, memang letaknya cuma di kaki, ga begitu diperhatikan orang. Hei... kok cuma sih?. Bayangin kalo kita cuma nyeker tanpa alas kaki, bisa melepuh deh kulit kakinya. Ya kali wajahnya mulus tapi kakinya buduk. Ckck


Entah sepatu, sendal ataupun lainnya, bagiku cukup penting sih. Aku memang tipe yang ga kuat panas ataupun dingin, termasuk tekanan dari kerikil-kerikil kecil. Menyiksa. Aku tak suka. Kecuali di tempat-tempat yang memang lazim tak beralas kaki, misalnya di pematang sawah. Meski sekarang sudah ada sepatu booth, rasanya lebih nikmat saat merasakan pijatan lumpur sawah yang lembut di kaki. Sayang sendalnya juga sih kalo kena lumpur. Hehe

Nah, aku sendiri bukan tipe pengoleksi alas kaki baik sepatu maupun sendal. Ya.. seperlunya aja sih, gak usah banyak-banyak apalagi mahal. Pokoknya seperlunya dan secukupnya aja. Kita mau kemana, ada yang dipakai untuk melindungi kaki kita tanpa harus bingung mau beli baru demi kepuasan diri. Toh cuma di kaki, eh.

Kegiatanku sebagai pengangguran ya paling gitu-gitu aja sih. Tak terlalu sering tapi bisa dibagi ke beberapa bagian, seperti acara formal, non formal dan semi formal. Dan aku punya item sepatu untuk masing-masing acara tersebut. Berapa jumlahnya? Ya kali banyak-banyak. Satu aja kok.

Lho? masak ga ganti-ganti?
Emang kenapa kalo gak ganti? Kan sudah kubilang jarang dipakai juga. Kalopun orangnya sama di acara yang berbeda, paling juga orang yang lihat sudah lupa. Wong cuma di kaki aja kok, hehe.

Ya udah ya udah, emang apa aja sih?

1. Sepatu Lari


Ini sepatuku yang paling baru, hehe. Murahan banget, maksudku harganya murah. Ada sih merknya tapi entah ori atau kw aku juga gak ngeh. Yang penting nyaman aja dipakai. Ukurannya kegedean 1 nomor sih sebenernya, tapi cukup pas kalo buat lari. Soalnya waktu nyobain yang satu nomor di bawahnya agak ketat gitu. Jadi ya sudahlah....

Sepatu ini dipake cuma 3 kali seminggu, itupun kalo lagi rajin jogging. Saat menulis ini malah udah semingguan gak kepake karena sering bangun kesiangan dan udah lemes saat mau jogging sore. *alesan*

Sejak beli hingga sekarang belom pernah kucuci karena memang belum pernah kotor banget. Paling bagian bawahnya aja yang aku sikat dengan pasta gigi agar tetap putih kinclong seperti gigi di iklannya. Huhu

2. Sepatu Ket

Aku gak tau gimana ejaan yang benar, ket atau cat atau cet. Ah sudahlah, maksudnya yang itu. Tau kan maksudku?
Kalau biasanya yang disebut sepatu ket adalah yang memiliki tali di bagian atas dan datar di bagian bawahnya, punyaku ini tanpa tali. Ada sih tali, tapi udah nempel gitu jadi gak perlu diikat secara manual. Entah masih termasuk kawanan sepatu ket atau nggak aku pasrah aja.

Sepatu ini casual banget. Aku suka pake kemana-mana. Biarpun bagian dalamnya udah buluk dan jelek, yang penting gak bau hehe.

Sepatu ini sudah setahun lebih menemaniku, aku beli di toko sepatu pinggir jalan dengan harga enam puluh ribu saja. Murah kan?, dan sampai sekarang aku belum berniat menggantinya. Bentuknya yang unik, simpel dan tak perlu mengikat tali seperti sepatu lainnya membuat aku mudah memakainya. Apalagi jika bepergian ke tempat ramai yang gak mungkin bisa jongkok barang sebentar untuk mengencangkan ikatan talinya.

3. Sepatu Flat

Sepatu ini sedikit lebih tua dari sepatu lariku. Harganya dua kali lebih murah dari kakaknya adiknya, maksudku harga sepatu lari tadi dibagi dua. Memang agak kebesaran karena ukuran standarnya besar, tapi mau gimana lagi. Itu sudah ukuran terkecil di tokonya. Warnanya manis dan modelnya elegan membuatku kepincut saat itu. Sampai saat ini masih sering kupakai dan rencananya akan kupakai saat lebaran nanti.

Warna dusty pink yang dimilikinya membuat warna kulit kakiku yang agak gelap terlihat lebih cerah. Entah karena khayalanku saja atau teorinya memang seperti itu, aku tak tau persis. Yang pasti sepatu ini berhasil menambah rasa percaya diriku saat menghadiri acara formal maupun semi formal.

4. Sendal Gunung
Bukan foto asli nih, tapi mirip sih modelnya. 

Sandal gunung ini kubeli setahun yang lalu. Terlalu besar dan agak berat jadi jarang kupakai. Tapi aku suka modelnya yang tak pasaran, meskipun sering dibilang kebo sapi karena warna masing-masing sisi yang berbeda. Satu sisi berwarna merah dan satu sisi lainnya berwarna hitam. Dulu saat masih sering jalan-jalan di alam sih sering dipakai, sekarang sudah berganti jalan-jalan di dunia maya jadi jarang dipakai, deh.

Sendal ini kubeli dari salah satu produsen di Jawa Barat, kalo gak salah Bandung. Harganya lumayan karena modelnya custom. Selain nyaman saat dipakai, modelnya yang tak pasaran juga menambah kePDanku hehe.

5. Sendal Jepit Butut

Nah, ini nih bagian yang penting gak penting. Aku anggap penting karena paling sering dipakai kemana saja. Ya kali mau ke warung pakai sepatu lari? Enaknya kan pakai yang tinggal 'mblusuk' aja to?

Tapi ya gak penting juga dilihat dari bentuk dan buluknya. Sendal ini paling sering dipakai tapi paling jarang dibersihkan hehe. Yang penting selalu ada saat dibutuhkan.





Nah, itu tadi koleksi alas kakiku alas kakiku. Em, bukan koleksi sih kan soalnya cuma itu-itu aja hehe. Kalau kalian punya koleksi sepatu apa aja sih?, pasti banyak ya... Share yuk!

Happy Blogging!