Cerita tentang Cita-cita


Setiap orang berhak memilih cita-cita sesuai dengan keinginannya. Meskipun terlihat rabun dan jauh, semua hal terasa sah dan mungkin untuk diharapkan. Mungkin karena kedudukannya sebagai salah satu motivasi hidup yang kadang banyak hambatan, cita-cita harus hadir dengan segala ke-absurd-annya di tengah-tengah manusia. Meskipun demikian, tak sedikit orang yang berhasil meraih cia-cita yang dulunya dianggap sulit terwujud, bahkan tidak mungkin, menjadi ada dan terwujud dengan jelas di depan mata.

Berbicara tentang cita-cita membuat saya teringat dengan cita-cita saya di masa kecil yang banyak sekali. Dari ingin menjadi dokter, guru, polisi dan banyak lagi. Cita-cita yang citarasanya standard bagi setiap anak karena memang profesi-profesi itu saja yang mereka ketahui saat itu.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, cita-cita yang bejibun itu pun perlahan menghilang dan tergantikan dengan tujuan lain yang lebih jelas dan sesuai dengan keadaan dan skill yang saya miliki.
Saya kemudian bercita-cita menjadi jurnalis, kira-kira pada usia 16 tahun setelah mengikuti kegiatan sekolah bertajuk Training Of Jurnalistic aka. Pelatihan Jurnalistik. Seperti jurnalis muda pada umumnya, semangat sekali saat diberi tugas meliput dan memberikan laporan. Namun saat mulai mendapat tugas -tanpa label pelatihan- seperti ada sesuatu yang mengganjal perut untuk berjalan. Seakan beban sebagai jurnalis terasa berat di pundak. Padahal ilmu saja tidak cukup, prakteklah yang lebih penting. Dan dari tugas-tugas inilah seharusnya saya bisa belajar sejak dini.

Semakin sering memraktekkan, maka semakin lihai dan lancar. Dalam hal menulis berita, sering membaca dan menulis adalah salah satu kunci utama.

Beberapa bulan ini saya berhenti menulis karena suatu hal,  dan apa yang terjadi?, saya kesusahan saat memulai menulis kembali. Sadis memang, tapi ini hukum alam. Semakin banyak berlatih, maka semakin lancar dalam menulis, pun dalam berbagai hal yang lain.

Di salah satu grup Whatsapp, seorang teman bertanya mengenai bagaimana cara menulis yang baik bagi pemula. Jawabnya pun beragam, hampir semuanya telah tertulis dan dapat dicari di mesin pencarian. Namun satu-satunya hal yang paling penting adalah memulai menulis dengan pikiran seadanya, dan biarkan ia berkembang dengan sendirinya. Dan saya akui, hal ini tidak mudah.

Saya pikir hal ini berlaku untuk hal yang lain selain menulis. Berlatih dan memraktekkan secara terus menerus adalah kunci utamanya. Seperti kata mutiara di bagian bawah buku tulis bermerek yang berbunyi “Practice make Perfect”.

Masih dengan cita-cita yang sama, saya kembali membuka lembaran baru yang dulu pernah ada. Ilmu dasar jurnalistik yang pernah saya dapatkan seakan muncul kembali dalam ingatan. Semakin semangat? Iya, namun keadaan kadang tak bisa dikompromikan #curhat. Dan sebisa mungkin saya selalu sigap dan siap untuk menggapainya. Jika pun tidak, setidaknya ada plan B yang harus saya lakukan.

Menulis di blog ini adalah salah satu cara saya berlatih membuat reportase, meskipun dengan objek yang sama dan gaya bahasa yang seadanya, hehe. “Mimpi adalah realita yang masih tertunda”, begitu pikir saya. Maka tidak ada salahnya memiliki cita-cita yang buram, toh banyak yang jual lampu.


Sekian dulu cerita tentang cita-cita dan kenangan masa lalu saya. Duh, kok saya jadi malu gini ya J.
Share: