Mata Kuliah Keluarga - haiulya.com

21/05/16

Mata Kuliah Keluarga

Maret 2014

Mengajar itu bukan hanya tentang teks, tapi juga pengalaman hidup. Seperti dosen saya yang satu ini. di setiap pertemuan, materi kuliah yang beliau sampaikan tidak pernah lepas dari pengalaman pribadinya. Entah baik atau buruk, selama masih berhubungan dengan bahasan yang diajarkan, tak segan-segan beliau menguraikan apa yang pernah beliau rasakan.
Sebenarnya beliau tidak dengan sengaja menguraikan hal tersebut, terkadang hanya kerana beberapa kata yang menyangkut tentang suatu hal beliau jadi tertarik untuk membahasnya. Pembahasan yang dilakuakan justru lebih mendalam dan lebih eksklusif dari materi kuliah yang sebenarnya.
Tak jarang pula cerita ayng disampaikan adalah cerita yang entah sudah berapa kali dissampaikan. Sehingga banayk dari teman-teman sekelas yang sampai hafal alur yang akan disampaikan bapak dosen, haha. Lucu juga sih, cukup menghibur saat suasana bosan dan kantuk mulai berdatangan.
Seperti halnya hari ini, kelas yang tak lagi seperti kelas. ketika pak dosen sedang menerangkan tentang �karya ilmiah�, terlihat teman-teman tak berbeda dengan saya, bahkan lebih parah. Ada yang tidur, ngobrol, main laptop, hingga membuka panti pijat (eh..).
Di tengah penjelasan beliau yang semakin membosankan dan mengantukkan, saya tersadar dan tergugah dengan pembahsan beliau yang menarik. Entah dari bahsan apa, tiba-tiba beliau menyampaikan tentang pentingnya bermusyawarah. Baik dalam lingkup formal maupun nonformal, seperti keluarga.
Dalam sebuah keluarga, sangat dibutuhkan adanya keharmonisan. Sifat harmonis ini pun dapat diciptakan dengan berbagai hal, misalnya dengan memberikan kesempatan kepada seluruh anggota keluarga untuk beraspirasi dalam setiap pengambilan keputusan.
Seperti yang disampaikan oleh dosen saya, dalam keluarga tidak diperbolehkan menganggap apa yang dimilikinya adalah haknya secara penuh. Meskipun cara mendapatkannya adalh dari jerih payahnya, tidak menutup kemungkinan anggota keluarga yang lain dapat turut andil dalam pengambilan keputusan mengenai hal tersebut.
Pengambilan keputusan secara sepihak dapat mnegakibatkan krisis eksistensi di antara anggota keluarga. Akibatnya anggota keluarga sering merasa diabaikan dan dinafikan hak-haknya dalam lingkup tersebut. Tak jarang pula terjadi cek cok yang berkelanjutan akibat hal tersebut karena merasa tidak dianggap atau menganggap keputusan yang telah diambil secara sepihak tidak bermanfaat.
Keluarga adalah lingkup terkecil dalam masyarakat, tentu masalah yang hinggap tak serumit masalah yang ada di luar. Tahap pembelajaran yang paling mengena dan paling efektif pun ada di lingkup keluarga. Indikasinya, jika kita mampu menyelesaikan masalah dalam keluarga, kemungkinan untuk mampu bersaing di masyarakat semakin tinggi.
Kuliah yang membosankan tidak selamanya nihil informasi dan pengetahuan. Kebosanan adalah titik terkecil dari sebuah pengalaman, tentunya penalaran dan logika harus dipakai dengan seksama pula. Sehingga kita tidak terjatuh di jurang kehancuran yang kita buat bersama kebosanan kita.
Maksudnya, kebosanan kita tidak serta merta dijadikan sebagai monster besar yang menjadikan kita tidak antusias dengan keadaan. Beberapa hal menarik yang sepertinya tidak berarti terkadang bisa menjadi magnet besar untuk menjadikan kita lebih tertantang untuk semakin maju. Kecuali jika Anda memang sudah terpuruk terlalu jauh.
Ah, tak ada keterpurukan yang abadi. Tuhan menjadikan manusia dengan problem dan solvernya, itu pasti. Jadi, jika Anda tetap terpuruk dengan keadaan Anda, diskusikan dengan orang terdekat Anda. Semoga lekas mendapatkan pencerahan. Amin.
Demikian coretan saya kali ini, dari kuliah yang membosankan hingga diskusi keluarga dan keberanian untuk terjun di masyarakat.