,

GARDU PANDANG JEHAN PART I

Kota Jepara dengan segala kelebihannya di pusat kota tak menyurutkan langkah kaki para pemuda untuk sekedar mlipir ke pedesaan. Selain karena aku anak desa, rasanya udara di perkotaan sudah jauh berbeda dengan di pedesaan yang meskipun tak sesejuk dan seasi dulu, setidaknya masih bisa disebut asri dan sejuk. 

Tahun ini, 2017, menjadi tahun yang asik bagiku. Banyak sekali hal baru yang kutemui, sampai nggak kober nulis di blog, (alibi). Akhirnya berhasil meluangkan waktu ubek ubek galeri cek stok foto, kira-kira apa saja yang bisa jadi konten blog, dan taraaaaaaaa, banyak banget lho ternyata sampe ngingetin kalo aku lama gak bersyukur diberi nikmat sebanyak ini sama Tuhan :).

Foto pertama yang kutemui adalah saat pertama kali ke Gardu Pandang dukuh Sikunir desa Jehan kecamatan Keling. Letaknya cukup jauh dari pusat kota jepara, jauh banget malahan.Saat pertama kali kesana, wisata yang ditawarkan masih seger-segernya. Baru sekitar dua mingguan di push ke media sosial dan langsung banjir pengunjung. Waktu itu wisata Gardu Pandang belum sebanyak sekarang, itulah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisata tersebut.

Kami bersama teman-teman Forum Lintas Komunitas (FOLKOM) yang berasal dari beberapa komunitas di Jepara berangkat pada hari Minggu, 12 Maret sekira pukul 09.00 dengan lebih kurang 20 sepeda motor. Kami juga sempat bertemu dengan beberapa rombongan lain yang juga menuju kesana. Rencananya kami akan mengadakan aksi pungut sampah disana.

Setibanya di sana, kami harus membayar tiket masuk seharga lima riburupiah perorang dan parkir dengan harga yang sama per sepeda motor. Sepeda motor yang kami bawa hanya bisa sampai di tempat parkir dan kami harus melanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 700 meter dengan tiga pilihan jalur. Jalur pertama sedikit memutar, sempit dan agak curam, jalur kedua menanjak tinggi namun lebih cepat dan jalur ketiga lebih jauh tapi dengan jalanan yang mudah dan cukup lebar.

Akhirnya kami memilih jalur kedua. Dan benar, jalanannya menanjak dan sempit serta melewati Pohon Pinus di kanan dan kiri kami dengan jarak yang hanya sekitar setengah meter. sesampainya di atas, kami disuguhi hamparan tanah yang lapang serta terkesan miring. Ada beberapa warung kecil yang menjajakan makanan ringan bagi pengunjung yang datang kesana.




Teman-teman penggagas acara ini ternyata sudah berkoordinasi dengan kepala desa terkait kegiatan ini, ada juga dari Dewan Lingkungan Hidup yang membantu kami menyediakan kebutuhan untuk aksi kami. Setelah berdiskusi sejenak dan mengambil foto bersama, kamipun memunguti sampah yang ada disana. Meskipun baru saja dibuka,sampah yang tercecer sudah tak lagi sedikit karena memang belum disediakan tempat sampah.




Setelah melakukan aksi pungut sampah, kami beristirahat di salah satu warung. Aku takjub dengan jumlah pengunjung yang kulihat, banyak sekali. Ada pula ibu-ibu dan bapak-bapak setempat yang juga ada disana. setelah kutelisik ternyata banyak dari mereka yang hanya penasaran dengan apa yang ada disana. Wajar sih, depan rumahnya mendadak ramai oeh wisatawan yang sebelumnya tidak ada sama sekali.

Disana disediakan beberapa Gardu yang menempel pada pohon dengan tangga di bagian bagian bawah sebagai jalan untuk naik. Adapula yang dibuat diatas tanah -tidak menempel di pohon- sehingga bisa muat lebih banyak orang. Tapi harus tetap menjaga keamanan ya, gak boleh selfie dengan gaya ekstrem.

Oh ya, karena di atas hanya ada hamparan tanah lapang yang jarang terdapat pohon maka sudah dapat dipastikan bahwa sinar matahari akan memancar langsung ke tubuh kita. Pengalaman pertamaku kesana membuat wajahku belang sebatas jilbab yang kupakai. Sebaiknya gunakan sunblock atau pelindung wajah saat ke Gardu Pandang Jehan ya...

Sekian dulu kisah piknik ke gardu pandang part satu. nantikan selanjutnya di part 2
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Udah selesai bacanya?
Komentar yuk, siapa tau isi hati kita sama :)