FASE PAUSE DALAM HIDUP


Waktu terus berlalu, tanpa kusadari yang ada hanya aku dan kenangan


Tak tahu kenapa, rasanya lagu ini mewakili perasaanku saat ini. Rasanya baru kemarin masuk kuliah, tahu-tahu sudah ada di penghujung batas semester. 365x banyak tahun yang sangat mengesankan. Sayangnya banyak momen yang terlewat karena tak didokumentasikan. Duh, sayang sekali ya.
Lama nggak ngeblog rasanya pikiran blank, nggak punya gairah menulis. Mood jelek banget tiap berhadapan dengan ide. Rasanya ingin menulis tapi bingung mau memulai darimana. Well, maafkan jika tulisan kali ini acakadut.

Sebenarnya kali ini aku mau membahas tentang Quarter Life Crisis, fase hidup paling wow yang pernah aku alami. Wow banget sampai aku sempat berujar, "gapapa lah kejadian sekarang pas masih muda dan belum menikah, setidaknya bebanku nggak berat-berat banget.

Tapi rasanya tulisan ini akan panjang dan terbagi menjadi berberapa part. 

Fase Pause dalam hidup

Sebagai manusia yang tak lagi bisa dikatakan remaja, menghadapi tanggung jawab rasanya tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi buatku yang belajar tanggung jawab secara otodidak dan nyaris tanpa dampingan. Bagiku, what people around me said, nggak menggambarkan diri mereka yang sebenarnya nggak lebih baik daripada aku. So,  apa yang membuatku harus percaya pada ucapan mereka? 

Time flies, dan aku akhirnya lebih percaya pada ucapan orang-orang yang menurutku lebih layak digugu lan ditiru. Bukan teman, bukan saudara, tapi ucapannya relate untuk kehidupanku. Dan setidaknya aku tak tahu apakah dia hanya omdo atau benar-benar menerapkannya dalam hidup. I don't care, yang penting aku hanya mencari bagian positif dari orang-orang tersebut.

Semakin kesini rasanya semakin mudah bertemu dengan banyak orang. Relasi pertemanan menjadi salah satu modal utama. Hubungan dengan keluarga menjadi hal sekunder yang nggak penting-penting amat. Waktu itu, belum terbersit untuk mengiyakan ungkapan "Keluarga adalah segalanya". Jahat ya, hehe... tapi ya memang begitu adanya. Tapi percayalah, ini bukan akhir. Ini hanya proses menuju pendewasaan dan pemicu kesadaran menjadi manusia yang seutuhnya ; makhluk sosial.

Setelah melewati fase enak-enak dengan banyak hal yang aku inginkan, akupun jenuh. Ya, jenuh sejenuh jenuhnya. Rasanya ingin berubah haluan tapi tak tahu harus bagaimana. Mendadak banyak masalah muncul, entah darimana asalnya yang pasti mereka ini mainnya keroyokan. Gak sportif banget. Kalau diingat lagi rasanya seperti jadi gula yang diperebutkan banyak semut. Gatal.

Dari sini, tanpa aku sadari ternyata banyak sekali kegiatanku yang terhenti sejenak sebelum waktunya selesai. Beberapa aku lakukan secara sengaja, dan selebihnya terjadi karena tragedi. Nih ya aku kasih uraiannya di bawah:


1.  Kuliah molor sampai 14 semester. 

Awalnya aku pikir biasa aja. Tak ada yang perlu disesali, dan memang aku nggak menyesal. kenapa?

Ya karena di waktu yang molor ini bukan berarti aku nggak dapat apa-apa. Banyak hal positif yang aku dapatkan. Lebih banyaknya berupa pengalaman sih, jadi ya wajar kalau orang lain melihatnya gitu-gitu aja. Padahal diri ini banyak upgrade-nya. 

Waktu terus berjalan, proses belajar pun masih berlanjut tapi dunia pendidikan formal terhenti sekian tahun. Meskipun pada akhirnya berjalan normal kembali dan lancar hingga akhir, fase ini cukup bikin deg-degan sih. tekanan dari berbagai pihak tanpa memberi solusi membuatku terpojok tapi perlahan bisa berdiri tegap lagi. Semoga lancar hingga waktunya wisuda bulan depan. 

2. Patah hati. 

Fase ini cukup wkwk sih. Iya, wkwk kalau diingat lagi, tapi sedihnya ga ketulungan waktu lagi ngerasain fase itu. Rasanya seperti nggak ada gunanya lagi hidupku ini. Ingin pergi ke ujung dunia lalu menghilang agar tak ada lagi rasa penyesalan yang berkepanjangan. Haduh, ini kalo diterusin bisa gila nih. Malu banget. 

Anyway, fase patah hati sebenarnya perlu banget. Ya memang rasanya ngilu, tapi efeknya bagus untuk pendewasaan diri. Tentu saja dengan catatan asupan energi positif harus selalu terpenuhi. Tidak harus keluar rumah, bisa kok lakukan hal-hal positif dari rumah. Kalo aku dulu suka nonton drakor, baca-baca wattpad atau nontonin video random di youtube.

Di fase ini, hidupku sempat terhenti sejenak. Memang aneh sih, gegara patah hati aja bisa sampe nge-pause-in hidup orang. Kurang lebih sebulan aku terkungkung di kehidupan yang toxic ini. Sampai akhirnya aku bisa keluar dengan tenang. Next aku akan ceritain gimana aku keluar dari goa gelap ini.


3. Bokek

Ya, bokek sebokek-bokeknya. Nggak ada uang, Nggak ada semangat hidup, ga ada teman berbagi. Yang ada cuma angan-angan tentang masa depan dan penyesalan tentang masa lalu. 

Menyesal sekali kenapa aku nggak nabung, menyesal kenapa nggak punya simpanan daa lain sebagainya. Tapi dari sini mulai bisa berpikir logis untuk masa depan yang lebih baik. Emang bener ya, pengalaman itu guru terbaik.

Nah, di fase bokek ini juga hidupku rasanya berhenti. Nggak bisa kemana-mana, nggak bisa ngapa-ngapain. Fix, pause lumayan lama. Tapi waktu akhirnya menjawab segalanya dengan sangat bijak. Semua masalah teratasi di waktu yang tepat.

Waktunya Play Lagi!

Begitulah hidup, tak ada yang benar-benar sempurna. Sesempurna apapun penampakannya, pasti ada sisi buruknya. Setiap orang pasti punya sisi kelemahan masing-masing, tergantung orangnya saja, mau memilih menampakkan atau menyembunyikan saja. Yang pasti keduanya punya konsekuensi masing-masing.

Dari ketiga hal yang membuat hidupku berhenti sejenak di atas, kini semuanya sudah berjalan normal kembali. Efek dari hal tersebut tentunya banyak sekali, mulai dari stress sampai badan kurus kering hehe.

Apapun itu, kini hidup sudah kembali normal dan masih banyak ide yang harus dieksekusi, masih ada laporan yang harus dikerjakan, dan masih banyak cinta yang harus di sebarluaskan.

Teruntuk kalian yang sedang mengalami fase pause dalam hidup, never give up!, hidup akan berjalan dengan baik lagi seperti sedia kala. Cukup sabar saja dan rasakan berkah Tuhan ada dimana-mana.
Terimakasih sudah membaca. Tunggu tulisan lanjutannya ya.




19 komentar

  1. Di seperempat abad umurku, aku pernah mengalami hal2 di atas, tetapi yang paling berat ketika ayahku meninggal. Kalau masih ada orang tua, disayang2 ya mba, jangan seperti saya yang masih banyak menyesalnya dan merasa selalu kurang bakti saya pada beliau ...

    BalasHapus
  2. Kaya ada juga sih bbrp kali ngalamin pause moment juga selama idup...meski berbeda dgn poin-poin di atas, pd akhirnya paham juga sih, hidup nggak perlu terus berlari karena ada saatnya dia berjalan pelan, atau kembali ke titik awal untuk melihat sesuatu yg lebih besar.

    BalasHapus
  3. Ingat kata salah seorang guruku, untuk melesat lebih jauh dan tinggi maka kamu butuh waktu untuk menarik mundur sejenak. Seperti anak panah yang ditarik mundur lalu melesat mencapai tujuan. Ehehehe

    BalasHapus
  4. Fase kaya gini kayanya bener2 fase menenangkan diri, mencari kebahagiaan hidup lebih utama dari segalanya ya. Jadi memang ga ada yg perlu disesali. Kita yang tau kadar "syukur"nya di setiap fase

    BalasHapus
  5. Aku punya tanaman cabe di kebun belakang yang cuma seuprit. Awalnya dia tumbuh subur sampai hama menyerang. AKu bingung mau ngasih peptisida alami apa, secara ilmuku ga ada. Akhirnya aku biarkan aja tanaman cabe itu, setengah pasrah kalo dia bakalan mati. Ternyata di luar ekspektasiku, sekarang dia malah suburr, cabenya rimbun sekali, daunnya nambah terus, pohonnya tambah gede aja.

    Dari sini kemudian aku mikir, kalau di dunia ini semua makhluk hidup pasti dikasih ujian sama Penciptanya.Kalo dia ga menyerah, pantang putus asa, pasti akan ada sesuatu yang lebih indah di sana sebagai ganjarannya.

    Semangat Mba :)

    BalasHapus
  6. Yeayy..semangat terus yaa kak. Saya bilang gini sekalian menyemangati diri sendiri. Karena bagaimanapun, kita pasti pernah berada di fase pause masing-masing.

    BalasHapus
  7. Tiap orang pasti pernah mengalami fase pause dalam hidupnya. Aku pun. Haha... Waktu itu sih ngilu banget emang rasanya. Tapi sekarang suka senyum2 sendiri klo ingat. Semangat mbak

    BalasHapus
  8. Apa yang kamu alami, aku juga mengalaminya. Kamu gak sendiri, kita akan melewati itu. Kalau lelah, istirahat aja sih. Tapi sekarang uah bangkit kan? Semangat nulis yaaaa

    BalasHapus
  9. Berasa lagi baca kisah hidupku sendiri nih wkwkkwkkw. Dari awal tulisan, lirik lagu Rahasia Hati nya Elemen udah aku banget, diterusin kok ya bener-bener aku banget, kuliah 14 semester karena sibuk cari pengalaman di luar kampus. Patah hati. Dan bokek, yang bikin aku gak harus kerja dulu buat biaya skripsi.

    Begitu lah ya, tiap masalah sebenarnya adalah cara semesta untuk menempah kita akar lebih kuat dari sebelumnya :)

    BalasHapus
  10. Aku kalau sdh jenuh sejenuh2nya apalagi di iringin dengan bokek, rasanya luar biasa banget ya. Rasanya semua gak ada yg bener. Memang harus pause dulu

    BalasHapus
  11. Masa fause saya anggap masa mengumpulkan bekal dsn tenaga untuk bisa jalan lebih cepat (kenyataannya sih banyak mager)

    BalasHapus
  12. Semua orang akan mengalami fase-fase di atas. Tenang saja, kamu nggak sendirian kok. Dan semua orang juga akan melewati fase-fase itu. Tenang saja, biarkan semesta bekerja untukmu. :)

    BalasHapus
  13. Aku pun menghabiskan jatah kuliah sampai 14 semester. Enggak menyesal sama sekali. Walau seringkali dicibir sama teman sebaya, "Kok lo gak lulus-lulus sih?" hehehe di samping itu mereka kalau punya kesulitan soal pekerjaan datangnya ke aku buat minta bantuan. Lucu memang. Sering balik kubercandain, "Begini doang aja lo nanya sama yang belum lulus."
    Setuju banget soal patah hati! Aku sangat menikmati fase sakitnya. Karena, benar, ada proses pendewasaan di sana jika ditangani dengan benar. Selamat ya udah melewati fase satu ini.

    BalasHapus
  14. Quarter life crisis memang vusa jadi drama bagi sebagian orang ya. Saya jadi ingat kalau dulu pengennya di usia 25 tahun menikah. Ternyata dijodohkan sebelum waktunya

    BalasHapus
  15. Di dalam kehidupan kita memang kadang menemukan masa di mana kita seperti berhenti dan atau fase pause. Wajar aja, kalau menurut saya. Hanya seharusnya kita gak perlu berlama-lama di fase itu. Jadikan saja semua kejadian itu sebuah ujian yang akan membuat kita naik kelas.

    BalasHapus
  16. Baca ini berasa nggak sendirian, sama rasanya sedang stuck, kuliah dah smt 11, belum stabil, masih bergelut dengan diri sendiri. Bener, bbrapa hal awalnya biasa saja atau ya dialihkan sj namun lama2 menjadi menumpuk. Namun apapun itu, embrace ya kak. Hidup mah sepertinya memang selalu ada fase2 gini, nnti ada masanya kita mengenang atau ngakak ngeliat masa kini. Tetep semangat dan peluk jauh

    BalasHapus
  17. iyaa kadang kita bahkan dengan sengaja memilih fase pause ini dan menurut saya itu biasa aja sih sebagai pilihan.. kadang mobil butuh berhenti biar mesinnya ga kepanasan. yang penting nikmati proses daan setiap kesempatan yang ada ya... Pause boleh aja tapi jangan kelamaan, kalau kelamaan namanya bukan pause tapi mesinnya mati aka rusak... :-)

    BalasHapus
  18. Fase patah hati. Hahaa.. aku juga pernah mengalami ini. Pada akhirnya aku belajar bahwa itu akibat aku terlalu berharap. Rasanya saat itu sakit banget, kecewa banget. Sempat down walau tak lama. Semangat kak! Setiap orang pasti bakal ngerasain fase jenuh atau fase pause dalam hidup. Dan yang terpenting, kita sudah bisa kembali bangkit dan menjalani hidup yang normal.��

    BalasHapus
  19. Hal-hal diatas memang sudah sewajarnya untuk mendewasakan diri, kita hidup tidak cukup dengan begitu gitu aja tapi dengan pengalaman diatas sangat memberikan arti dalam kehidupan. Jalani saja hidup ini dan lakukan hal positif.

    BalasHapus

Udah selesai bacanya?
Komentar yuk, siapa tau isi hati kita sama :)