Ketika 'Cuan' Menjadi Alasan Untuk Setiap Hal

by - 27 April

Halo, sudah lama ya saya tidak menulis di blog ini. Notebook saya sampai penuh debu dan sawang. Ada yang mau bantu bersihkan?


Btw, ternyata saya libur ngeblog sudah cukup lama ya. Bahkan bisa dibilang sangat lama. Aktif sebentar, perpanjang umur domain, udah deh. Tinggalin.


Semua ini bukan benar-benar kehendak saya. Saya sih mau punya kerjaan yang seenak nulis terus tiap hari lalu dapat duit. Ah,,, tapi omdo tanpa konsistensi pastinya cuma dibilang halu oleh rumput yang bergoyang.


Seingat saya, terakhir kali saya menulis secara sadar saat belum memasuki fase Quarter Life Crisist yang menyiksa beberapa waktu lalu. Hal yang mungkin tak akan pernah saya lupakan dalam hidup saya. Tapi Tuhan memang maha adil, di balik itu semua. Saya mendapatkan apa yang saat ini saya miliki dengan penuh rasa syukur.


Pandemi membuat urat nadi saya hampir putus, saya tidak tahu harus kemana. Untungnya saat ini ada malaikat yang selalu menemani saya, bahkan hingga detik ini. Entah saya tidak bisa membayangkan bagaimana saya berdamai dengan pandemi tanpanya.


Time flies, dan akhirnya saya ditarik maju ke kehidupan yang sebenarnya. Hal yang mungkin biasa saja bagi orang lain, tapi bagi saya sangat luar biasa. Tuhan menginginkan saya untuk belajar lebih banyak dari hal-hal yang bersinggungan dengan kegagalan. Dalam kurun waktu setengah tahun, banyak sekali hal baru yang saya dapatkan. Baik daa buruk seakan melebur dalam rasa syukur yang tak ada hentinya saya ucap salam setiap helaan nafas.


Saya yang dulu los losan, sok baik dengan mengerahkan jiwa raga dan pikiran mulai slow down dan membatasi diri. Memilih dan memilah mana saja bagian dari diri saya yang boleh terekspose oleh orang lain. Skill apa saja yang boleh saya salurkan untuk orang lain.


Profesionalitas menjadi hal yang saya pegang erat saat ini. Saya mencoba menempatkan diri saya sebagai apa yang orang lain butuhkan dan tetap menyimpan selebihnya untuk saya pribadi.


Kini, cuan menjadi salah satu prioritas saya. Dibilang tamak, kikir dan serakahpun tak masalah bagi saya. Saya selalu mencoba untuk tidak melibatkan orang lain dalam hal percuanan ini, kecuali dengan client yang membayar saya untuk melakukannya. Jadi bagi saya, ocehan orang lain tidak ada urusannya dengan diri saya. Itu urusan mereka sendiri yang tidak bisa mengontrol emosi ketika melihat saya banyak cuan.


Mungkin kalimat demi kalimat dalam paragraf yang saya susun diatas terkesan kasar ya Bun... tapi begitulah saya. Saya yang kalem di luar ini sebenarnya tidak peduli dengan orang lain.


Saya sedang sibuk dengan diri saya yang berusaha meraih kebaikan demi kebaikan untuk diri saya. Ya, hanya dengan diri saya. Sesekali dengan ibu, hanya ketika pulang ke rumah. Mendengarkan curhatan dan wejangan yang biasanya diaduk jadi satu. Dan juga calon suami saya, tentunya dengan intensitas yang rendah karena masih belum tinggal bersama.  Selain dengan mereka, saya tidak peduli. Saya merasa bak seleb diantara para netizen, ada-ada saja yang jadi topik gunjingan tentang saya. Padahal ya saya ini tidak ada apa-apanya kecuali keburukan. Oh ya, keburukan saya ini yang mungkin memicu kontroversi yang selalu saya anggap sebagai angin lalu.


Imbasnya, saya jadi pilih-pilih dan jarang bersosialisasi. Saya menutup diri untuk hal-hal yang tidak saya sukai atau berpotensi membuat saya berpikir negatif. Namun dengan begitu, saya jadi kenal lebih dekat dengan diri saya sendiri. Saya lebih tahu apa yang sebenarnya diri saya butuhkan. 


So far, meskipun saya seorang extrovert tapi saya tetap punya line untuk kesendirian saya yang begitu menyenangkan. 


Finansial


Nah, ini nih... makin berumur, makin kompleks pula masalahnya. Dan yang paling penting adalah cuan. Sejujurnya, saya melek finansial setelah melalui badai quarter life crisist yang jika boleh saya meminta... saya ingin merasakannya lebih awal. Tapi seru juga sih, mengalami quarter life crisist di umur yang benar-benar 1/4 abad. Kan momennya pas banget gitu.


Meskipun bukan hanya finansial yang saya pelajari setelah bada besar itu, namun semuanya cenderung mengerucut kepada percuanan satu ini. Apapun yang saya ingin dapatkan, apapun yang saya pikirkan, apapun yang saya agendakan ujung-ujungnya butuh uang. Hehe.


Lalu satu persatu jalan terbuka. Saya mengerti bagaimana dunia yang sebenarnya tidak seperti yang saya bayangkan selama dalam tempurung. Saya kudet. Saya tidak tahu ada hal-hal mengerikan yang terjadi dan dialami orang-orang di luar sana. Saya terlalu terlena dengan kenyamanan yang saya buat sendiri.


Lalu, bagaimana keadaan finansialmu sekarang, Ul?


Sudah cukup stabil. Saya bisa membeli apa yang saya inginkan. Saya bisa punya apa yang saya butuhkan. Saya bisa set up kehidupan seperti yang saya bayangkan tanpa perlu saya jelaskan.


Beberapa tanggungan sudah saya selesaikan. Dengan izin Tuhan, saya yakin pasti bisa menyelesaikannya. Salah satu hal yang ingin saya selesaikan dengan diri saya. Hutang.


Selain itu, saya ya biasa saja. Seperti layaknya anak muda lain yang punya rasa malas dan banyak rebahannya. Bahkan saya menulis tulisan sepanjang 800 kata inipun sambil rebahan. Hehe.


Saya hanya pegawai biasa dengan mimpi setinggi langit. Dengan gaji setengah dari UMR kota saya, saya tetap menjalankan hidup ala minimalis yang jarang beli baju, rajin menabung, tetap makan enak dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.


Saya berusaha untuk tetap sadar. Menjalani setiap hal secara sadar dan menghindari kalimat "oh, ya... kok tadi gak kepikiran ya". Begitulah cara saya menjaga mood dan calm down di setiap situasi. Menata jadwal sesuai keyakinan diri pada kemampuan yang saya miliki. Ini nih yang bikin saya kelihatan lebih banyak tidur wkwk.


Sudah cukup panjang meskipun sebenarnya belum usai. Tunggu saya di tulisan selanjutnya ya. 


Terimakasih sudah membaca.



Happy blogging!


You May Also Like

0 komentar

Udah selesai bacanya?
Komentar yuk, siapa tau isi hati kita sama :)