Tentang Pacaran

by - 24 Januari


Tentang Pacaran - Pacaran atau nggak pacaran itu pilihan masing-masing, siapapun boleh pacaran asalkan dengan sesama single atau dengan pasangan sahnya yang masih ingin menyebut dirinya pacaran. Ih, kompleks banget ya penjelasanku.

Well, memang ribet karena aku juga dibikin pusing sama kenyataan di media sosial yang satu sisi bilang nggak boleh pacaran karena bla bla bla dan di sisi lain bilangnya pacaran aja biar kenal sama calon pasangan seumur hidupnya.

Apakah Aku Pro Pacaran?

Aku sendiri, jujur saja pernah ada di dua posisi tersebut. Entah itu jalan yang benar dan sekarang aku kembali tersesat atau sebaliknya, aku pernah tersesat lalu kembali ke jalan yang benar. Aku tak mau memikirkannya lebih jauh. Capek buuuk, mikir terus. Jalanin aja hidup seenak mungkin, hempaskan halu yang bertubi-tubi. :)

Oke, sampai disini sebut saja aku pelaku pacaran. Bukan berarti nggak mendukung yang anti pacaran tapi ini hak kalian sendiri untuk menentukan pilihan. Segala hal pasti ada resikonya, termasuk pacaran. Selama kalian yakin bisa menghadapi kenyataan dan segala resiko dalam proses pacaran artinya kamu boleh dan siap untuk pacaran.

Sebenarnya sih, pacaran itu hal yang kompleks untuk dibicarakan. Bahkan anak kecil yang cuma modal rasa suka terus nembak lalu diterima juga nyebutnya pacaran, kan?. Meskipun aku can't relate banget karena aku polos banget waktu kecil, sih. Nggak pernah punya pengalaman pacaran di usia dini. Tapi percaya aja lah karena aku lihat sendiri salah satu murid les yang mengaku sudah berpacaran padahal baru kelas 5, hmm. Juga beragam fakta di sosial media yang justru kerap jadi guyonan kaum dewasa.

Padahal nih ya, aku tuh cuma mau membahas tentang pacaran yang dijalankan dua insan di umur yang bisa dibilang matang. Tapi bisa aja kan artikelku ini dikaitkan dengan pola pacaran abg yang sedang merasakan cinta monyet. Semoga tetap bisa relate karena masih dalam satu topik, PACARAN.

It's ok, seenggaknya kalian sudah tahu maksudku.

Aku nggak akan menjelaskan tentang definisi pacaran karena pasti akan lebih kompleks lagi.

Btw, ini tulisan atau perumahan kok banyak kompleksnya dari tadi???

Pola pacaran setiap pasangan selalu berbeda satu sama lain. Nggak bisa dipukul rata. Karena setiap orang punya karakternya masing-masing dan tentu saja berpengaruh pada pola hubungannya. Pola hubungan juga dipengaruhi oleh latar belakang masing-masing pasangan, usia hingga tujuan yang berbeda-beda. Beda pasangan, beda cara mengungkapkan perasaan, beda cara nge-treat pasangan dan tentu saja beda cara pandang terhadap hubungan.

Namun beberapa poin ini mungkin bisa dijadikan landasan hukum ketika memutuskan untuk berpacaran.  Jika dirasa nggak bisa memenuhi, please.. mendingan kamu jomblo aja. Semuanya based on my story, sebisa mungkin nggak mau dibuat-buat karena ini blog personal, ehe~.

Komitmen

Memutuskan untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis artinya siap menerima banyak hal baru. Menerima dan menjalankan segala yang ada di depan mata dengan lapang dada.

Pacaran artinya siap menjalankan komitmen yang telah dibuat bersama. Baik langsung maupun tidak langsung. Yang tujuan utamanya tentu demi keberlangsungan hubungan dalam jangka panjang dan dalam kebahagiaan yang mendalam.

Siapapun dan dari latar belakang apapun pasangan, cintailah dia sepenuhnya. Bukan karena apapun yang ada di belakangnya. Dan tanamkan pada diri bahwa hal itu sebenarnya nggak penting sama sekali. Anggap saja bonus dari betapa tulusnya cintamu selama ini. Dan tak ada alasan untuk memilih tempat lain untuk melabuhkan pandanganmu pada yang lain hanya karena keadaanya yang nggak sama dengan yang sedang kamu suka.

Jika sudah yakin dengan pasangan, komitmen bukan hal yang sulit, kok. Tapi lagi-lagi ini tentang sifat bawaan juga, sih. Well, nggak semua orang punya skill setia sekuat baja. Lhah, baja aja kalo sering ditempa bakalan bengkok juga kan ya....?!

Komitmen itu intinya melaksanakan janji yang telah dibuat dengan pasangan maupun diri sendiri ketika memulai sebuah hubungan. Yang pasti, pasangan yang dimaksud disini hanya 1 laki-laki dan 1 perempuan, nggak ada yang lain.

Aku sendiri agak insecure sih sama Mas A, hmm... mungkin demikian juga dengan Mas A padaku. Wajar saja karena kita nggak setiap hari bertemu dan kemungkinan dia bertemu orang lain jauh lebih banyak. Aku sendiri benci pada perasaan ini karena aku pernah percaya banget sama mas A. Dan hanya karena aku pernah lihat chat dia dengan perempuan lain, sejak saat itu aku jadi mulai insecure. Ih, sebel. Padahal maunya secure-secure aja, kalem, santai, woles. Tapi pikiran parno muncul terus dan datang seenaknya. Bikin hidup nggak tenang dan pengen makan orang. Oh, ternyata posesifku separah itu.

Jika sudah seperti ini, waktunya mengeluarkan amunisi kedua.

Komunikasi

Dalam setiap hubungan, baik formal maupun non formal, penting atau nggak penting, komunikasi harus selalu dipentingkan, lho. Apapun bentuk komunikasinya, usahakan agar semua pihak tahu apa yang diinginkan pihak lain.

Nggak harus setiap waktu juga untuk berkabar, tapi usahakan untuk tidak kehilangan kabar dari pasangan. Minimal sekali dalam satu hari, usahakan ada komunikasi dengan pasangan.

Untuk hubungan dalam ranah usia muda, mungkin banyak ditemui jawaban 'jalani saja dulu, kalau cocok ya lanjut kalau nggak ya gimana lagi?'. Ambigu, percuma menjalin komunikasi sebagus apapun tapi tujuannya nggak jelas. Kasian waktumu terbuang percuma, Gais. Saranku, lebih baik menjomblo saja daripada harus merasakan sakitnya patah hati terencana.

Untuk hal yang lebih serius, komunikasi dengan pasangan tentang tujuan hubungan ke depan, apakah akan sekedar getting happy atau akan bermuara pada jenjang pernikahan menjadi topik yang menarik untuk dibicarakan. Meskipun 90% akan mendapatkan jawaban 'yes' untuk pertanyaan 'will you marry me?', tapi tetap banyak juga yang masih belum siap dan mendapatkan jawaban tragis. Saranku, sebelum melamar dengan gaya seperti itu sebaiknya dikomunikasikan saja dulu. Berdua. Biarkan dunia tahu setelahnya saat semua sudah tiba pada waktunya.

Setiap pasangan tentu memiliki pola komunikasi yang berbeda. Hal ini tergantung pada sifat dan watak kedua belah pihak. Dan tentunya sesuai kesepakatan bersama.

Komunikasi yang dibangun dengan baik akan membuat hubungan terasa jelas dan terarah. Meskipun kadang terlihat nggak penting seperti menanyakan kabar, keadaan, kegiatan maupun hal lainnya yang terlihat menjemukan, tapi bagi sebagian orang hal itu terbilang penting, lho. Apalagi untuk pasangan yang lagi hangat-hangatnya. Ya nggak sih?

Realistis


Cinta kadang membuat siapapun berfikir tak realistis, cenderung mengada-ada dan aneh. Seaneh mau mau aja diatur pasangan yang baru kenal beberapa bulan. Padahal selama ini kamu hidup dengan dirimu sendiri dan so far, sangat baik-baik saja.

Seaneh tiba-tiba mau membelikan make up pacarnya, mengantarkannya kemanapun tujuannya serta berbagai hal absurd lainnya. Bahkan kadang ada yang mengalahkan egonya demi kesenangan pasangannya. Sempat sweet di masanya.

Tapi akan ada waktunya hal-hal seperti itu rasanya

Uuh, sweet memang. Tetapi apakah tidak terlalu berlebihan dalam memberikan segala waktu, tenaga, pikiran bahkan uang untuk orang lain yang ((iya sih kita sayang)) bukan siapa-siapa.

Menjadi Diri Sendiri

Sampai poin ke empat ini sebenarnya sudah cukup bingung apa yang akan ditulis. Karena saking banyaknya yang sudah aku tulis diatas.  Hehehe

Selain itu, karena poin ini juga sudah tercakup dalam poin-poin sebelumnya. Pada intinya, pacaran hanyalah satu step hubungan untuk saling mengenal lebih dalam tentang pasangan. Pola, jenis, bentuk dan karakter hubungan selalu berbeda antara satu pasangan dengan pasangan lain.

Karena masih bersifat penjajakan, sebaiknya tak perlu larut terlalu dalam. Tetaplah menjadi diri sendiri dan tetap mencintai diri sendiri. Tak perlu menyediakan segala kelebihanmu demi menyenangkan pasangan.

Jadilah pasangan yang menyenangkan, tak perlu jadi seperti yang diinginkan. Ini cinta, bukan trik sulap.

Sekian, happy blogging. 


You May Also Like

61 komentar

  1. Kalau aku sih lama banget memutuskan untuk pacaran mbak karena di keluarga aku gak kenal itu zaman sekolah juga enggak ngalamin karena aku pikir pacaran berarti siap punya komitmen untuk menikah jd pacaran pas memang siap menikah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mbak. Keputusan pacran memnag bergantung dari pola asuh keluarga juga.

      Hapus
  2. Aku sih memang sepakat bahwa sebaiknya kalau tetap menjadi diri sendiri sehingga ketika menjajaki langkah lebih jauh, tidak ada yang perlu disembunyikan

    BalasHapus
  3. Kadang sih memang nggak realistis pacaran hahah, karena ego masih suka kelihatan apalagi jaman now nanti main hape sebentar, ngambek dah 😂

    BalasHapus
  4. Pernah juga ngerasain pacaran dan sekarang malah menyesal, gak enak blas kalo kata orang jawa. Wkwkwk...

    BalasHapus
  5. aku pacaran selama 7 tahun yang sekarang dengan suamiku. banyak banget belajar dari situ, dengan begitu aku jadi punya pondasi yang lebih kuat untuk saling mengenal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah... 7 tahun.
      Aku yang 2 tahun harus banyak belajar dari mbak. Hehe

      Hapus
  6. Sepakat mba tipsnya, aku juga pro pacaran. Karena gimana pun juga kita perlu mengenal dulu calon suami. Cuma memng gaya pacarannya harus benar dan jangan sampai di luar norma susila.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyap mbak. Yang penting tetap jaga diri.

      Hapus
  7. Setuju..menjadi diri sendiri dan bukan menyediakan kelebihan untuk menyenangkan pasangan dan menyembunyikan kekurangan...yang ujung-ujungnya pas nikah jadi ketahuan.

    BalasHapus
  8. Jadi keinget, dulu saya pernah antipacaran. Sampai memandang rendah deh ke mereka yang ngelakuin itu. Trus ndilalah, kena karma! Lha kok pada suatu ketika saya akhirnya pacaran juga. Emang sih, pada akhirnya putus dan dapat suami yang nggak melewati proses pacaran. Cuma moral story yang akhirnya aku dapat: jangan memandang rendah pada apa yang tidak kita lakukan. Karena suatu saat bisa jadi justru kita melakukannya sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju mbak. Fokus sama diri sendiri.

      Hapus
  9. Jadi inget masa sekolah dan kuliah nih soal pacaran. Pernah berpacaran dengan orang yg keluarganya terlihat nggak welcome. Jadi hubungan kita carut marut. Well, akhirnya putus. Pedihnya lagi dia nikah dengan orang yang baru ketemu beberapa bulan aja. Rasanya gue cuma batu loncatan buat dia menuju hidup abadi dengan cewe lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaaak
      Menyakitkan. Turut sedih mbak. :(

      Hapus
  10. Aku sih, dulu waktu muda, biasa aja sama pacaran. Temen yang pacaran ya silakan. Aku sendiri gak pacaran, cuma punya temen curhat yang deket. Yang sama2 punya rasa. Tapi gak berani jadian. Hahahaha... dan sekarang, saat udah punya anak remaja, aku takut anak2 pacaran. Huhuhuhu... liat fenomena pacaran anak zaman sekarang nyeremin. Bikin worit orang tua. Eh Mbak, follow-followan yuk blognya Aku sudah follow :D

    BalasHapus
  11. Aku juga pernah ada di antara keduanya, pernah pacaran dan pernah anti untuk itu. Krn ortu yang lumayan strict jadinya ga bisa punya hubungan serius sama cowo, keder duluan, hihihi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe
      Aku juga gitu sih mba sebenarnya.

      Hapus
  12. semasa aku ((muda)) aku pro pacaran karena fikiran ketakutan ga ngenal si dia kalau pas nikah dan kini jadi ortu bahas pacaran aga gimana gitu wkwkwk tapi setuju mba jadilah diri sendiri krn aku kenal seseorang yang pacaran sampe skrg nikah masih nutup2in kesel kan rahasia2an ;p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha. Mudanya di highlight banget gitu ya.

      Hapus
  13. Aku lupa pernah pacaran apa gak ya wkwkwk. Kalau naksir2an sih sering :D
    Yg pasti enakan nikah ketimbang pacaran :D
    Soalnya biasanya kalau cuma pacaran yg bagus2 aja yg tampak, menikah beda lagi. Itu sebabnya di Islam ada istilah taaruf, ya kalau udah sreg nikah aja deh :D
    Iyes betul yg penting berkomitmen sih dan komunikasi dua arah dalam suatu hubungan, plus gak curigaan tentu aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biasanya malah kalau pacaran susah jd diri sendiri, eh ini pengamatanku yaaa. Krn bbrp kali melihat gtu, sok jaim2an hehe. Hmm, mungkin itu ABG atau remaja kali ya. Kalau yg dewasa yg arahnya dah serius mau merit mungkin beda, entahlan :D

      Hapus
    2. Semua pasangan punya polanya masing-masing. Makin muda usianya, polanya makin monoton dan sama kaya lainnya. Huhu

      Hapus
  14. Aku lahir dan besar di Jakarta dengan lingkungan keluarga, sekolah, pergaulan semuaaaa ada kisah pacaran. Apalagi kegiatanku di alam dan seni yang banyak cowok gantengnya hahaha, tapi begitu memutuskan untuk jadian atau memiliki pasangan saat usia 27 tahun ya langsung nikah. Untuk anak-anakku aku ga pro pacaran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hwaa.. Aku terinspirasi dengan usia pacarannya.

      Hapus
  15. Jadi diri sendiri itu memang penting ya mba. Kalo aku pribadi dengan suami ga pacaran, kenalnya saat ta'aruf. Alhamdulillah ga ngerasa beli kucing dlm karung krn saat ta'aruf pun saya 'bantai' habis habisan, wkwk. In my opinion, kalo udh sreg nikah, better XD Tiap org punya pilihan masing2 tinggal saling menghormati aja yah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Harusnya memang berani bantai kaya gitu. Nggak peduli dibilang kepo atau banyak bacot.

      Hapus
  16. Aku juga dulu pacaran mba buat mengenal satu sama lain tp koq ya aku kayanya gak pro pacaran buat ankku soalnya liat gaya pacaran anak sekarang ngeri ya,tp balik lagi sih ke pribadi masing2 klo bisa sih ankku kenal pacaran pas udah pd kerja aja ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa ditanamkan sejak masih kecil mbak. Semangat.

      Hapus
  17. dulu pernah juga melalui proses pacaran ini dan endingnya nggak ngenakin banget. heu. kalau menurutku tiap orang punya jalannya masing-masing sih dalam menjemput jodohnya. ada yang lewat pacaran dan ada yang tidak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Naik turun hubungan pacaran pasti ada. Tinggal kita menyikapinya gimana.

      Hapus
  18. Haha. Kadang masalah pacaran emang bikin ribet ya. Tapi tenang, ketika kita banyak nyibukin diri dengan banyak hal positif. Masalah gini mah selow. Pas waktunya nikah, nanti juga nikah. Tinggal pilih yang terbaik dan banyak doa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Kebanyakan mikir jadi bingung ntar. Hehe

      Hapus
  19. pacaran jaman old enak.. jaman sekarang hmm aku ngga mau bocils tar pacaran. Yang serius ama anak gue, sini datang ke gue, lamar!

    :)

    BalasHapus
  20. Kalau ak nikah dulu deh baru pacaran wuehehehe ;D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah... Ini nih. Bagi testimoni dong. Hehe

      Hapus
  21. Wah, ngomongin pacaran. Sebagai orang yang pacaran sejak SMA, aku enggak ada masalah ketika anakku besok pas udah gede mau pacaran. Pacaran ada positifnya juga kok, saling mengenal satu sama lain, supaya ketika sudah terikat komitmen bisa lebih tahu masing2 dulu. Enggak kaget gitu.. Ya, meskipun setelah nikah adaa ajaa perbedaannya. Tapi kalo enggak pacaran, pasti lebih kaget lagi. Hahaha...

    Kalo tentang kekhawatiran2 kita ttg pacaran. Tergantung kita menyikapinya kok. Kitanya tegas dan kuat. Pacaran enggak selalu berhubungan dgn zina kok. Balik lgi, tergantung kitanya.

    Juga kita harus terbuka sama ortu. Dan ketika udh jadi ortu juga harus menunjukkan sikap ramah ketika anaknya diapeli sm temen atau pacarnya. Kalo udh pasang tampang serem, anaknya males loh bawa2 temennya ke rumah. Trus ujungnya malah diem2 pacaran di luar. Ihh.. malah serem ah..

    Mending beri kebebasan dikit sm anak, tanamkan tanggungjawab. Supaya dia enggak diem2 sembunyi2, kita taunya dia baik2 aja, enggak pacaran, anak shaleh. Lahh.. taunya tiba2 terjadi sesuatu yg tdk kita inginkan.

    in my opinion.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Betul banget. Sebagai orang tua harus bisa jaga perasaan anak juga biar nggak lari kemana-mana.

      Hapus
  22. Pacaran lama memang gak jamin nikahnya sama dia juga siih...
    Jadi,
    Aku lebih milih...yang halal.

    Hihii...
    Karena memang saat pacaran, yang terlihat baik-baiknya aja.
    Gak baiknya, dikiiitt..


    Begitu nikah...
    BLAARR!

    Jadi,
    kalau sudah ada yang berbiat baik meminang, dilihat semua kriteria masuk (agama, harta, tahta, rupa)...tunggu apalagi.

    Cuuss~
    Bismillah.

    BalasHapus
  23. bingung mau koment apa hehehe
    karena ga pacaran saat remaja
    pacaran saat udah kerja dan dewasa serta langsung nikah setelah kenalan beberapa bulan
    intinya sih mau lama atau singkat pacaran bukan jaminan rumah tangga bahagia dan langgeng.
    yg diperlukan komitmen dalam berumah tangga
    itu aja sih...
    nyatanya ada yg bertahun2 pacaran..pas nikah bentar cerai
    ada yg ga pernah pacaran ..tp langgeng sampe tua

    BalasHapus
  24. Suka sama lawan jenis memang tidak salah, tapi jika akhirnya rasa suka tersebut mendorong utk berbuat zina. Itu yg masalah. Pacaran atau tidak, itu pilihan masing2.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, zina tanpa pacaranpun bisa. Hiks

      Hapus
  25. Kalau aku jujur gak pro pacaran. Dari dulu gak pernah pacaran, cuma naksir-naksir doang. Hehe.
    Tapi, aku biasa-biasa aja sama temen-temenku yg pacaran. Sohib kental ya pacaran, dan aku gak pengen :D
    Karena aku udah yakin sih sama keyakinanku. Jadi untuk poin-poin di artikel di atas, aku gak berhak komen kayaknya. Hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe
      Memang setiap orang berbeda ya mbak. Aku suka sama yang netral.

      Hapus
  26. Hihihi ini bahasan yang cocok buat remaja, biar lebih faham tentang pacaran, bukan sekadaf menjalin hubungan dengan lawan jenis tapi lebih pada komitmen ya

    BalasHapus
  27. Kalau dalam agama, sebenarnya pafaran itu gak boleh sih, karena sama saja dgn mendekati zina
    Sayangnya sekarang sudah cukup dibebaskan bahkan diajggap wajar dengan dalih untuk menyiapkan pernikahan yg baik
    Hmm yaaa aku sih angkat tangan soal ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Em... Tergantung orangnya kali ya mbak.

      Hapus
  28. Say no to Pacaran. Kalau mau deket sama cewek, ajak serius, lamaar, nikahi. :D

    BalasHapus
  29. Terserah juga sih, pilih pacaran atau nggak yg penting bisa jaga diri...,dan jangan sampai kebablasan..karena godaan amat berat, dan jangan cuma lihat sisi baik saja...karena setiap orang punya sisi negatif juga .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap, mbak. Terimakasih wejangannya. Hehe

      Hapus
  30. Duh, malam minggu gini aku baca yang bahas pacaran. Mana gak punya lagi akunya, jadi berasa gimana gitu. Wkwkwkwkwwk aku sih selama membawa sesuatu yg lebih baik yaaa kenapa enggak gitu.

    BalasHapus

Udah selesai bacanya?
Komentar yuk, siapa tau isi hati kita sama :)