Aku Tak Pernah Gagal

by - 15 Maret

Hidup ini tak pernah lepas dari segala masalah. Entah kecil atau besar selalu saja ada masalah. Aku lupa kapan pertama kali menghadapi masalah, dan kapan terakhir kali aku keluar dari masalah. Masalahnya, aku sendiri kadang alpa tentang apakah aku sudah keluar dari masalah atau justru membuat lubang masalah yang baru.

Saking akrabnya dengan masalah, aku jadi semakin congkak dan merasa sangat mampu keluar dari sebuah masalah. "Ini semua hanya tentang waktu", ucapku berkali-kali pada diriku sendiri setiap kali merasa tak berdamai dengan masalah. 

Toh  menurutku segala yang terjadi adalah bagian dari rantai kehidupan. Satu hal terjadi karena hal lain telah terjadi, begitu terus berulang-ulang. Saling tumpang tindih seperti kartu domino yang jatuh setelah kartu sebelumnya mengenainya. Lambat laun akupun tak menganggapnya sebagai masalah, tapi sebagai teman akrab yang mengajarkan banyak hal baru. I love it. 


Membahas masalah, tentu cocoknya membahas kegagalan. Biasanya masalah menimbulkan kegagalan. Masalahnya beragam dan bentuk kegagalannyapun beragam. Kalian tahu sendiri lah ya, sebagai makhluk hidup yang normal pasti pernah mengalami dua hal ini. 

Sebenarnya tak mau membahas tentang kegagalan terlalu dalam karena aku sendiri sudah tak percaya dengan konsep kegagalan. Why?, karena "kegagalan adalan keberhasilan yang tertunda". Anjay banget nggak sih jawabanku, klasik. 

Awal ke-nggak percayaanku pada konsep kegagalan adalah setelah aku merenung dan menyadari bahwa semua yang terjadi saat ini selalu berhubungan dengan apa yang terjadi di masa lalu. Disadari atau tidak, diakui atau tidak, it is true. Yaaaa, meskipun kadang harus melewati beberapa fase kegagalan dulu. 

Salah satunya adalah saat dimana aku sadar bahwa di usia sekarang, aku baru tahu bahwa ilmu parenting itu ada. Bahwa jadi orang tua ada ilmunya, meskipun nggak ada sekolahnya. Aaaak, aku kudet banget dong, ya ampun. 

Di fase ini aku sadar kenapa sampai saat ini aku belum diijinkan menikah. Mungkin aku dikasih jalan dulu buat belajar tentang ilmu ini sebelum praktek. 

Dan aku jadi ingat kejadian saat aku hendak menikah tapi nggak jadi. Horror tapi pengen ngakak sih kalo ingat ini. Bisa bayangin nggak sih gimana aku yang waktu itu masih 18 tahun, baru tahu cinta doang terus mau nikah. Mau kuapain anakku nanti. Hiks. 

Sejak kapan aku sadar? 

Baru aja kok, baru aja kemaren. Pas lagi down banget dan tiba-tiba ke flashback gitu aja. Bahkan sampai bikin kepala pusing dan nggak enak badan. Sumpah aku mendingan sakit badan daripada sakit pikiran. Menyiksa. 

Waktu itu kepalaku serasa nggak berhenti berpikir dan selalu kepikiran hal-hal yang bikin aku sampai di titik ini sekarang. Sampai akhirnya aku bisa tenang dan bisa berpikir jernih kembali dan menyimpulkan bahwa aku sebenarnya nggak pernah gagal. Aku hanya ditempatkan di tempat yang nggak aku inginkan oleh Tuhan untuk sebuah tujuan yang Beliau rahasiakan. 

Sekian. 






You May Also Like

11 komentar

  1. tul...saya juga pernah mengalami fase2 gagal. saya sering mempertanyakan kenapa? Karena saya sejak kecil selalu dituntut untuk jadi sempurna oleh ortu. akibatnya sampai dengan saya kerja susah menerima kegagaaln baru setelah menikahlah saya jadi lebih legowo dan mencoba mempelajari kenapa kegagalan itu ada.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Ternyata semuanya hanya proses menuju lebih baik.

      Hapus
  2. wah banyak kegagalan aku mah tp ya itulah dibawa ikhlas dan mencari solusi dan mental yang kuat

    BalasHapus
  3. Wah berat nih ngomong masalah gagal mah. Aku gak tahu sih lagi dalam fase gagal apa gimana, mudah mudahan enggak. Tapi sekarang yang pasti aku lagi ada pada fase berusaha untuk gak gagal. Atau senggaknya berusaha untuk menerima semua kenyataan.

    BalasHapus
  4. Aku pernah nemu quote bagus tentang paragraf terakhir itu, tapi aku lupa gimana quotenya. Hahaa

    Yg jelas, gagal sih gak papa, asal berjuang lagi. Karena gak ada kata berakhir untuk berjuang

    BalasHapus
  5. saya juga pernah gagal,
    Tapi dari kegagalan itu saya mulai mengerti harus memulai dari mana untuk belajar jadi Lebih baik.

    Semoga setiap hari diberikan kelancaran iya mba. :)

    BalasHapus
  6. Semua yang terjadi itu, pasti ada hikmahnya. Tidak jadi nikah di usia 18, juga pasti ada hikmahnya. Jadi bisa berpikir lebih dewasa seperti sekarang, kan?

    BalasHapus
  7. aku dah ngebayangin serunya kalau mbak nya nikah umur 18 tahun, pasti kehidupan pernikahannya lebih seru, lebih banyak ceritanya

    BalasHapus
  8. Aku merasa masalah udah jadi makanan sehari2 itu kian besar saat lulus sekolah, hehee
    Tapi begitu udah ada masalah merasa harus bisa lolos dr lubang dg nama masalah itu

    BalasHapus
  9. Gagal menurut saya sebagai batu lompatan buat jadi lebih baik. Gagal itu pelajaran yang paling keinget. Paling ngga kalau ada masalah yang sama udah langsung tahu cara menyelesaikannya

    BalasHapus

Udah selesai bacanya?
Komentar yuk, siapa tau isi hati kita sama :)